KATA
PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena anugerah dari-Nya penulis
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Revolusi Mental Bagi Seluruh Rakyat
Indonesia” ini. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada
junjungan besar kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada
kita jalan yang lurus berupa ajaran agama Islam yang sempurna dan menjadi
anugerah serta rahmat bagi seluruh alam semesta.
Penulis sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah yang menjadi tugas Pendidikan Budi Pekerti ini. Di samping itu, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami selama pembuatan makalah ini berlangsung sehingga terealisasikanlah makalah ini.
Penulis sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah yang menjadi tugas Pendidikan Budi Pekerti ini. Di samping itu, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami selama pembuatan makalah ini berlangsung sehingga terealisasikanlah makalah ini.
Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi penulis
sendiri maupun para pembaca. Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan. Karena itu, saran dan kritik yang membangun dari para pembaca
yang budiman sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan makalah ini kedepannya.
Terima kasih.
Cileungsi, Januari
2016
Maines
Panjaitan
ABSTRAK
“Revolusi Mental adalah
suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru,
yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api
yang menyala-nyala.”
Itulah gagasan revolusi
mental yang pertama kali dilontarkan oleh Presiden Soekarno pada Peringatan
Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956. Soekarno melihat revolusi nasional Indonesia
saat itu sedang terhenti, padahal tujuan revolusi untuk meraih kemerdekaan
Indonesia yang seutuhnya belum tercapai.
Kita tahu, negeri ini telah
mengalami penjajahan selama 350 tahun. Selama itu pula bangsa kita mendapat
penindasan, diperbudak, dan diperas setiap tetes sumber daya manusia maupun
alamnya. Karena itu setelah merdeka, pekerjaan paling besar yang harus
dilakukan oleh para pemimpin bangsa adalah membangun mental manusia Indonesia.
Caranya, dengan gerakan revolusi mental itu.
Dengan kata lain, modal utama membangun suatu negara adalah
membangun jiwa bangsa. Tentu saja diperlukan keahlian, atau menguasai keilmuan,
namun tanpa dilandasi jiwa yang merdeka, pembangunan tidak akan mencapai
tujuannya. Inilah ide dasar dari digaungkannya kembali gerakan revolusi
mental oleh Presiden Joko Widodo.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah
Masyarakat
Indonesia saat ini memiliki krisis karakter atau budaya. Hal ini terlihat dari
sikap masyarakat yang sangat memprihatinkan. Seperti yang kita ketahui,
masyarakat sekarang lebih suka melakukan kebiasaan yang salah dari pada
memperbaiki kesalahan tersebut. Beberapa cerminan buruknya budaya kita saat ini
diantaranya, dari kalangan pelajar seringkali kita temui kebiasan mencontek
saat ujian, tawuran antar pelajar, merokok, membolos, bullying, bahkan lebih
suka dan bangga melakukan pelanggaran terhadap peraturan sekolah dibanding
berlomba mengejar prestasi. Sementara dari kalangan masyarakat umum, seperti
membuang sampah sembarangan, main hakim sendiri, menggunakan jalur busway ,
menerobos lampu merah dan palang kereta bahkan menerobos antrian. Dan dari
kalangan pemerintah yaitu budaya korupsi yang merajalela, KKN, menyogok hakim
dan masih banyak lagi dari yang disebutkan di atas. Kondisi ini tentunya sangat
meresahkan. Hal-hal tersebut sangat berlawanan dari budaya masyarakat Indonesia
yang ramah, santun, saling menghormati, suka menolong,dan sebagainya. Jika
kondisi ini terus dibiarkan maka akan seperti apa Indonesia di masa depan
nanti? Apakah kita mau anak cucu kita nanti hidup di negara yang minim
kesadaran masyarakatnya untuk berbuat kebaikan dan selalu menikmati keresahan
karena hanya menemui kemacetan, banjir, sampah yang berserakan di mana-mana,
dan hal-hal lain yang tidak nyaman? Akankah kita akan terus hidup seperti ini?
Hal ini yang melatar-belakangi penulis
untuk membuat makalah dengan judul “Revolusi Mental Bagi Seluruh Rakyat
Indonesia.” Dengan harapan kita mengetahui apa itu revolusi ,ental dan
bagaimana mewujudkannya?
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apakah yang dimaksud
dengan revolusi mental?
2. Mengapa
perlu diadakannya revolusi mental?
3.
Bagaimana cara untuk
mewujudkan revolusi mental?
1.3
Tujuan
1.
Untuk mengetahui apakah
maksud atau arti revolusi mental.
2. Untuk
mengetahui perlunya diadakan revolusi mental.
3.
Untuk mengetahui
bagaimana cara mewujudkan revolusi mental.
1.4
Manfaat
1.
Mengetahui apakah maksud
atau arti revolusi mental.
2. Mengetahui
perlunya diadakan revolusi mental.
3.
Mengetahui bagaimana cara
untuk mewujudkan revolusi mental.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi revolusi mental
Seiring
dengan kemenangan Bapak Joko Widodo dan Yusuf Kalla dalam pilpres 9 Juli 2014
maka tampaknya kita akan memasuki era perubahan yang signifikanmelalui konsep
Revolusi Mental yang dicanangkan oleh Presiden Baru periode 2014-2019 itu.
Perubahan yang signifikan tersebut sebaiknya kita sikapi dengan kesiapan untuk
berubah dari dalam diri kita masing-masing agar tidak menjadi korban perubahan.
Tetapi, apakah sebenarnya Revolusi Mental itu?
Revolusi
Mental terdiri dari dua kata yaitu Revolusi dan Mental. Revolusi (dari bahasa
latin revoutio, yang berarti
“berputar arah”) adalah perubahan fundamental
(mendasar) dalam struktur kekuatan atau orgnisasi yang terjadi dalam periode
waktu yang relatif singkat. Atau bisa diartikan sebagai perubahan dalam waktu
singkat. Aristoteles menggambarkan pada dasarnya ada 2 jenis revolusi yakni:
1.
Perubahan sepenuhnya dari
satu aturan ke yang lainnya
2.
Modifikasi terhadap
aturan yang ada
Revolusi telah banyak terjadi dalam
sejarah umat manusia dan bervariasi dalam berbagai metode,durasi,dan ideologi
motivasi. Hasilnya telah terjadi perubahan besar dalam budaya, ekonomi, dan
institusi sosial politik.
Sedangkan
Mental atau tepatnya Mentalitas adalah cara berpikir atau kemampuan untuk
berpikir, belajar, dan merespon terhadap suatu situasi dan kondisi. Metalitas
berasal dari kata mental, yang berarti pikiran. Bagaimana pikiran kita bekerja
itulah mentalitas kita, yaitu cara kita berpikir tentang sesuatu. Cara berpikir
(mentalitas) dibentuk dari pengalaman, hasil belajar, atau pengaruh lingkungan.
Jadi, Revolusi Mental dapat diartikan dengan perubahan yang relatif cepat dalam
cara berpikir kita dalam merespon, bertindak dan bekerja.
2.1.1 Revolusi Mental
Menurut Beberapa Ahli
2.1.1.1 Revolusi Mental
Menurut Bung Karno
Dalam revolusi nasional Indonesia, gagagasan revolusi mental
memang tidak bisa dipisahkan dari Bung Karno. Dialah yang menjadi pencetus dan
pengonsepnya. Dia pula yang mendorong habis-habisan agar konsep ini menjadi
aspek penting dalam pelaksanaan dan penuntasan revolusi nasional Indonesia. Esensi dari revolusi mental ala Bung Karno ini adalah perombakan cara
berpikir, cara kerja/berjuang, dan cara hidup agar selaras dengan semangat
kemajuan dan tuntutan revolusi nasional. “Ia adalah satu gerakan untuk menggembleng
manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan
baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala,” kata Bung
Karno.
Perombakan cara berpikir, cara kerja, dan cara hidup ini punya dua tujuan
besar: pertama, menamankan rasa percaya diri pada diri sendiri dan kemampuan
sendiri; dan kedua, menanamkan optimisme dengan daya kreatif di kalangan rakyat
dalam menghadapi rintangan dan kesulitan-kesulitan bermasyarakat dan bernegara. Untuk melancarakan revolusi mental ini, Bung Karno kemudian menganjurkan
‘Gerakan Hidup Baru’. Gerakan ini merupakan bentuk praksis dari revolusi
mental. Menurut Soekarno, setiap revolusi mestilah menolak ‘hari kemarin’
(reject yesterday). Artinya, semua gaya hidup lama, yang tidak sesuai dengan
semangat kemajuan dan tuntutan revolusi, mestilah dibuang. Tetapi
beliau juga berpendapat bahwa revolusi
mental bukanlah pekerjaan satu-dua hari, melainkan sebuah proyek nasional
jangka panjang dan terus-menerus.
2.1.1.2
Revolusi Mental Menurut Benny Susetyo (Sekretaris
Eksekutif Komisi HAK KWI, Pemerhati Sosial)
Perubahan dari ketidakpercayaan diri menjadi bangsa yang penuh kepercayaan.
Menyadari diri bahwa kita adalah bangsa besar dan bisa berbuat sesuatu yang
besar. “Visi” revolusi mental ini begitu pentingnya mengingat beragam kegagalan
kita sebagai bangsa, kerap (selalu) dimulai dari mentalitas ini.
1.
Bangsa
Besar
Harus ada
yang terus mengingatkan bahwa Indonesia adalah bangsa besar. Namun,
masyarakatnya kerap tidak percaya diri saat menghadapi tantangan- tantangan
zaman. Pola pikir ini harus diubah karena perubahan selalu berasal dari sikap
dan mental manusia. Kendati sudah merdeka berpuluh tahun lamanya, kita masih
merasa sebagai bangsa yang rendah diri dan bermental “jongos”. Kita tidak maju
akibat sikap mental yang selalu merasa diri terjajah dan bahkan menikmati
situasi ketergantungan pada bangsa lain. Kemakmuran yang ada seperti sebuah
fatamorgana, hanya indah di buku-buku sekolahan, namun pahit dalam kenyataan.
Sumber daya alam negeri ini bahkan nyaris ludes dikuasai oleh pihak asing.
2.
Merdeka Sepenuhnya
Kita sering merasa minder sebagai bangsa. Kurang bisa memaknai harga diri
dan begitu mudah menyerahkan segalagalanya pada bangsa lain. Orientasi elite
kerap hanya keuntungan dirinya saja, dengan hanya menjadi perantara atau
makelar saja. Bukan sebagai bangsa yang tangguh yang berani mengelola semua
potensi untuk rakyat sendiri. Berabad-abad lamanya menjadi bangsa yang bisa
membungkuk pada orang lain. Dan, inilah musabab segala problematika bangsa ini sebab mental elite
tidaklah merdeka sepenuhnya. Dalam konteks pendidikan, ketakutan luar biasa
terhadap mereka yang memiliki uang merupakan cermin gagalnya pengelolaan
republik ini. Kita belum mampu memproses manusia yang merdeka, mendidik manusia
untuk benar-benar menjadi merdeka.
3.
Sistem Penuh Kepalsuan
Suka tidak suka, sadar tidak sadar, harus dikatakan bahwa inilah cermin
sebagian besar elite politik kita hari ini, yang tidak berani mengadakan
perubahan secara radikal dengan merombak sistem lama yang penuh kepalsuan.
Sungguh ironis karena sudah tahu sistem tersebut penuh dengan kebobrokan,
justru tetap dilestarikan karena berdalih menjaga kesopanan.
Tidak ada kesadaran bahwa selama sistem lama masih bercokol, jangan harap
menghasilkan elite yang berkualitas. Citacita kemerdekaan yang digariskan oleh
para pendiri republik seolah luntur. Barangkali, tak pernah disangka oleh para
pendiri republik bahwa akhirnya kemerdekaan yang telah diraih dengan darah dan
pengorbanan untuk keluar dari jerat pikir penjajahan kembali lagi menuju
penjajahan di bawah dalih kemerdekaan. Ironisnya, penjajahan dalam arti yang lebih luas (politik, ekonomi, sosial,
dan budaya) dilakukan oleh bangsa sendiri bersama dengan bangsa lain melalui
persekongkolan jahat. Dalihnya kemakmuran, tapi nyatanya ketertindasan.
Romantisme perjuangan dalam bentuk solidaritas kebangsaan yang amat kuat luntur
karena para pengisinya tak pernah sadar bahwa usaha membangun selalu dilakukan
bersama, bukan orang per orang dan kelompok per kelompok.
4.
Kemerdekaan
Sejati
Kemerdekaan
adalah kepedulian untuk terus-menerus memberdayakan manusia agar ia memahami
dirinya sendiri sekaligus mengaktualisasikan kreativitasnya demi membangun
kemakmuran bangsa dan negara. Gagasan Romo Mangun tersebar dalam berbagai
pikiran untuk membebaskan manusia dari belenggu. Bangsa baginya tidak hanya
sebagai kumpulan manusia yang setiap tahun merayakan kemerdekaan. Kemerdekaan
bangsa adalah cerminan dari manusia sebagai individu yang otonom. Kenyataannya,
meski kita sudah merdeka hampir setengah abad dari penjajah, arti kemerdekaan
itu hanya bisa dilekatkan sebagai kemerdekaan secara formal. Itupun masih harus
kita pertanyakan kembali, meski kita sudah merdeka, pada hakikatnya kita masih
terjajah secara ekonomi. Atas itu
semualah, revolusi mental diperlukan, bukan hanya dalam kata-kata namun juga
dalam tindakan konkret untuk mengembalikan Indonesia sebagai bangsa besar yang
mengelola kekayaan alam untuk rakyatnya sendiri.
2.1.1.3
Revolusi Mental Menurut Joko Widodo
Dalam
pembangunan bangsa, saat ini kita cenderung menerapkan prinsip-prinsip paham
liberalisme yang jelas tidak sesuai dan kontradiktif dengan nilai, budaya, dan
karakter bangsa Indonesia. Sudah saatnya Indonesia melakukan tindakan korektif,
tidak dengan menghentikan proses reformasi yang sudah berjalan, tetapi dengan
mencanangkan revolusi mental menciptakan paradigma, budaya politik, dan
pendekatan nation building baru yang lebih manusiawi, sesuai dengan budaya
Nusantara, bersahaja, dan berkesinambungan.
Penggunaan
istilah “revolusi” tidak berlebihan. Sebab, Indonesia memerlukan suatu
terobosan budaya politik untuk memberantas setuntas-tuntasnya segala
praktik-praktik yang buruk yang sudah terlalu lama dibiarkan tumbuh kembang
sejak zaman Orde Baru sampai sekarang. Revolusi mental beda dengan revolusi
fisik karena ia tidak memerlukan pertumpahan darah. Namun, usaha ini tetap
memerlukan dukungan moril dan spiritual serta komitmen dalam diri seorang pemimpin
dan selayaknya setiap revolusi diperlukan pengorbanan oleh masyarakat.
Reformasi 16 tahun tidak banyak membawa perubahan dalam cara kita mengelola
ekonomi. Pemerintah dengan gampang membuka keran impor untuk bahan makanan dan
kebutuhan lain. Banyak elite politik kita terjebak menjadi pemburu rente
sebagai jalan pintas yang diambil yang tidak memikirkan konsekuensi terhadap
petani di Indonesia. Ironis kalau Indonesia dengan kekayaan alamnya masih
mengandalkan impor pangan. Indonesia secara ekonomi seharusnya dapat berdiri di
atas kaki sendiri, sesuai dengan amanat Trisakti. Ketahanan pangan dan
ketahanan energi merupakan dua hal yang sudah tidak dapat ditawar lagi.
Indonesia harus segera mengarah ke sana dengan program dan jadwal yang jelas
dan terukur. Di luar kedua sektor ini, Indonesia tetap akan mengandalkan
kegiatan ekspor dan impor untuk menggerakkan roda ekonomi.
Sifat
ke-Indonesia-an juga semakin pudar karena derasnya tarikan arus globalisasi dan
dampak dari revolusi teknologi komunikasi selama 20 tahun terakhir. Indonesia
tidak boleh membiarkan bangsanya larut dengan arus budaya yang belum tentu
sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa kita. Sistem pendidikan harus diarahkan
untuk membantu membangun identitas bangsa Indonesia yang berbudaya dan beradab,
yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral agama yang hidup di negara ini. Akses
ke pendidikan dan layanan kesehatan masyarakat yang terprogram, terarah, dan
tepat sasaran oleh nagara dapat membantu kita membangun kepribadian sosial dan
budaya Indonesia.
2.2
Perlunya
Revolusi Mental
Hasil-hasil survei internasional sering
menunjukkan bahwa dalam hal yang baik, angka untuk Indonesia cenderung rendah,
tetapi dalam hal yang buruk cenderung tinggi. Contoh, data Tranparency
International menunjukkan persepsi tentang tingkat korupsi di sektor publik,
dari 177 negara dan dengan 177 skor, Indonesia berada di rangking 114 dengan
skor 32. Ini di bawah Ethiopia yang berada pada posisi 111. Masyarakat
Indonesia sendiri merasa resah melihat perilaku, sikap serta mentalitas kita
yang saling serobot di jalan raya, tak mau antre, kurang penghargaan terhadap
orang lain. Serangkaian FGD (kelompok diskusi terfokus) di Jakarta, Aceh,
dan Papua yang dilakukan oleh Kelompok Kerja Revolusi Mental Rumah Transisi
juga menggambarkan keresahan masyarakat tentang karakter kita sebagai bangsa.
FGD ini melibatkan 300 orang budayawan, seniman, perempuan, netizen, kaum
muda,pengusaha,birokrat, tokoh agama/adat, akademisi dan LSM. Kesimpulan yang
didapat adalah kita memang butuh mengubah mentalitas secara revolusioner karena
adanya gejala :
1.
krisis nilai dan karakter
2.
krisis pemerintahan: pemerintah
ada tapi tidak hadir, masyarakat menjadi obyek pembangunan,
3.
krisis relasi sosial : gejala
intoleransi.
Beberapa
kutipan dari peserta FGD :
"Ada sesuatu yang salah tentang
nilai. Ada nilai luhur bangsa yang terlupa..." (Tokoh Sektor Privat, FGD Jakarta)
"...Orang yang berperilaku baik,
Jujur dan bersih justru tidak populer, mereka yang baik menjadi musuh
bersama." (Birokrat, FGD Aceh)
"...Peradaban Indonesia sedang
berhenti..." (Seniman, FGD Jakarta)
"Birokrasi sekarang: Gendut,
berbelit, rapuh" (Birokrat, FGD Jakarta)
"Di Kemenpora, program
kebanyakan seminar saja. Kedepan harus lebih fokus dalam pembangunan
mental demi masa depan Indonesia." (Tokoh Muda, FGD Aceh)
"Penegakkan hukum gak jelas
antara yang salah dan benar tapi tergantung lobby. Kita cenderung menghormati
orang dari penampilannya, bukan apa yang dilakukan. " (Tokoh Sektor Privat, FGD
Jakarta.)
"Saya pikir dalam waktu 5 tahun
terakhir ini kondisi semakin buruk karena pemerintah semakin tidak mendengarkan
(rakyat), ada, tapi tidak hadir." (Netizen, FGD Jakarta)
"Respons Pemerintah lama,
masyarakat menyelesaikan masalahnya dengan caranya sendiri" (Tokoh LSM, FGD Jakarta)
"Masyarakat mengalami kehilangan
kepercayaan terhadap Pemerintah"
(Tokoh LSM, FGD Jakarta)
(Tokoh LSM, FGD Jakarta)
"Yang perlu diubah adalah
mentalitas proyek" (Tokoh Agama, FGD Jakarta)
"Saat ini kita berada dalam
situasi bahwa toleransi mengalami kemunduran dibandingkan 15 tahun yang
lalu" (Tokoh Agama, FGD Jakarta).
Keresahan masyarakat kita ini harus dijawab dan diberikan
solusi sebelum berjalan lebih jauh lagi. Bila sejak merdeka kita sibuk dengan
pembangunan fisik, maka saatnya kita bangun pula mental kita. Pembangunan ini
akan kita lakukan dengan berbagai gerakan bersama, kolaborasi antara masyarakat
dan swasta yang didukung oleh pemerintah. Perubahan dimulai saat ini dan
berawal dari diri sendiri, dilakukan bersama untuk Indonesia yang lebih baik.
2.3
Cara
mewujudkan Revolusi Mental
2.3.1
Prinsip
Revolusi Mental
Berikut
8 Prinsip Revolusi
Mental:
1.
Revolusi Mental adalah gerakan
sosial untuk bersama-sama menuju Indonesia yang lebih baik.
2.
Harus didukung oleh tekad politik
(political will) Pemerintah
3.
Harus bersifat lintas sektoral.
4.
Kolaborasi masyarakat, sektor
privat, akademisi dan pemerintah.
5.
Dilakukan dengan program “gempuran
nilai” (value attack) untuk senantiasa mengingatkan masyarakat terhadap
nilai-nilai strategis dalam setiap ruang publik.
6.
Desain program harus mudah
dilaksanakan (user friendly), menyenangkan (popular) bagi seluruh segmen
masyarakat.
7.
Nilai-nilai yang dikembangkan
terutama ditujukan untuk mengatur moralitas publik (sosial) bukan moralitas
privat (individual).
8.
Dapat diukur dampaknya dan dirasakan
manfaatnya oleh warga masyarakat.
2.3.2 Nilai-Nilai Strategis Revolusi
Mental
Sub Nilai
|
Contoh Perilaku
|
Kewargaan
|
Bersih,
Antri, Hak disable, Hak pejalan kaki, Aman berkendara
|
Dapat
Dipercaya
|
Anti memberi dan menerima Suap
|
Profesional
|
Cepat
tanggap, tepat waktu, tidak menunda pekerjaan
|
Mandiri
|
Cinta produk Indonesia
|
Kreatif
|
Melakukan
inovasi, Anti mencontek, life-long learning
|
Saling
Menghargai
|
Sopan santun, Menerima perbedaan,
Anti kekerasan, Anti Diskriminasi, kasih sayang.
|
Gotong
Royong
|
Tolong
menolong, kerja sama, kerelawanan
|
2.3.3 Dari mana
kita memulainya?
Kalau bisa disepakati bahwa Indonesia
perlu melakukan revolusi mental, pertanyaan berikutnya adalah dari mana kita
harus memulainya. Jawabannya dari masing-masing kita sendiri, dimulai dengan
lingkungan keluarga dan lingkungan tempat tinggal serta lingkungan kerja dan
kemudian meluas menjadi lingkungan kota dan lingkungan negara. Revolusi mental
harus menjadi sebuah gerakan nasional. Usaha kita bersama untuk mengubah nasib
Indonesia menjadi bangsa yang benar-benar merdeka, adil, dan makmur. Kita harus berani mengendalikan masa depan bangsa kita sendiri dengan restu
Allah SWT. Sebab, sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu bangsa kecuali
bangsa itu mengubah apa yang ada pada diri mereka.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Revolusi mental adalah sebuah langkah terbaik yang dapat
kita lakukan untuk perubahan negara menjadi lebih baik lagi. Hal ini
dikarenakan krisis karakter atau budaya yang sedang melanda bangsa ini. Kita
tidak mungkin akan selamanya membiarkan keadaan ini terus menerus terjadi. Karenanya kesadaran dari
dalam diri kita sendiri adalah kunci utama demi tercapainya perubahan tersebut.
Walaupun hanya hal kecil yang dapat kita lakukan, tetapi jika seluruh warga
Indonesia juga melakukannya maka akan terjadi sebuah revolusi mental yang akan
mengubah krisis karakter yang tengah terjadi sekarang ini. Marilah kita
bersama-sama mengembalikan identitas bangsa dan negara ini. Marilah kita
bersama-sama mewujudkan cita-cita Bung Karno di era proklamasi dulu dalam
Revolusi Mental yang menurutnya adalah suatu gerakan
untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati
putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang
menyala-nyala.
3.2 Saran
Penulis menyadari akan kekurangan bahan
dari materi makalah ini. Sehingga penulis menyarankan apabila terdapat
kekurangan dalam isi dari makalah ini, maka saran – saran dan kritik dari pembaca adalah penutup dari semua
kekurangan penulis serta menjadikan semua itu menjadi bahan acuan untuk memotivasi dan
menyempurnakan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Adapun
daftar pustaka makalah ini adalah dari berbagai website berikut:
http://kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=288195
Thank you. 😆
Tidak ada komentar:
Posting Komentar