Jumat, 09 Maret 2018

Makalah Revolusi Mental Bagi Seluruh Rakyat Indonesia


KATA PENGANTAR



            Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena anugerah dari-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Revolusi Mental Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” ini. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita jalan yang lurus berupa ajaran agama Islam yang sempurna dan menjadi anugerah serta rahmat bagi seluruh alam semesta.
            Penulis sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah yang menjadi tugas Pendidikan Budi Pekerti ini. Di samping itu, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami selama pembuatan makalah ini berlangsung sehingga terealisasikanlah makalah ini.

Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi penulis sendiri maupun para pembaca.  Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan. Karena itu, saran dan kritik yang membangun dari para pembaca yang budiman sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan makalah ini kedepannya. Terima kasih.



Cileungsi,  Januari 2016





Maines Panjaitan





ABSTRAK



“Revolusi Mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala.”

Itulah gagasan revolusi mental yang pertama kali dilontarkan oleh Presiden Soekarno pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956. Soekarno melihat revolusi nasional Indonesia saat itu sedang terhenti, padahal tujuan revolusi untuk meraih kemerdekaan Indonesia yang seutuhnya belum tercapai.

Kita tahu, negeri ini telah mengalami penjajahan selama 350 tahun. Selama itu pula bangsa kita mendapat penindasan, diperbudak, dan diperas setiap tetes sumber daya manusia maupun alamnya. Karena itu setelah merdeka, pekerjaan paling besar yang harus dilakukan oleh para pemimpin bangsa adalah membangun mental manusia Indonesia. Caranya, dengan gerakan revolusi mental itu.

Dengan kata lain, modal utama membangun suatu negara adalah membangun jiwa bangsa. Tentu saja diperlukan keahlian, atau menguasai keilmuan, namun tanpa dilandasi jiwa yang merdeka, pembangunan tidak akan mencapai tujuannya. Inilah ide dasar dari digaungkannya kembali gerakan revolusi mental oleh Presiden Joko Widodo.


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
     Masyarakat Indonesia saat ini memiliki krisis karakter atau budaya. Hal ini terlihat dari sikap masyarakat yang sangat memprihatinkan. Seperti yang kita ketahui, masyarakat sekarang lebih suka melakukan kebiasaan yang salah dari pada memperbaiki kesalahan tersebut. Beberapa cerminan buruknya budaya kita saat ini diantaranya, dari kalangan pelajar seringkali kita temui kebiasan mencontek saat ujian, tawuran antar pelajar, merokok, membolos, bullying, bahkan lebih suka dan bangga melakukan pelanggaran terhadap peraturan sekolah dibanding berlomba mengejar prestasi. Sementara dari kalangan masyarakat umum, seperti membuang sampah sembarangan, main hakim sendiri, menggunakan jalur busway , menerobos lampu merah dan palang kereta bahkan menerobos antrian. Dan dari kalangan pemerintah yaitu budaya korupsi yang merajalela, KKN, menyogok hakim dan masih banyak lagi dari yang disebutkan di atas. Kondisi ini tentunya sangat meresahkan. Hal-hal tersebut sangat berlawanan dari budaya masyarakat Indonesia yang ramah, santun, saling menghormati, suka menolong,dan sebagainya. Jika kondisi ini terus dibiarkan maka akan seperti apa Indonesia di masa depan nanti? Apakah kita mau anak cucu kita nanti hidup di negara yang minim kesadaran masyarakatnya untuk berbuat kebaikan dan selalu menikmati keresahan karena hanya menemui kemacetan, banjir, sampah yang berserakan di mana-mana, dan hal-hal lain yang tidak nyaman? Akankah kita akan terus hidup seperti ini?
Hal ini yang melatar-belakangi penulis untuk membuat makalah dengan judul “Revolusi Mental Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.” Dengan harapan kita mengetahui apa itu revolusi ,ental dan bagaimana mewujudkannya?

1.2 Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan revolusi mental?
2.      Mengapa perlu diadakannya revolusi mental?
3.      Bagaimana cara untuk mewujudkan revolusi mental?
1.3 Tujuan
1.      Untuk mengetahui apakah maksud atau arti revolusi mental.
2.      Untuk mengetahui perlunya diadakan revolusi mental.
3.      Untuk mengetahui bagaimana cara mewujudkan revolusi mental.
1.4 Manfaat
1.      Mengetahui apakah maksud atau arti revolusi mental.
2.      Mengetahui perlunya diadakan revolusi mental.
3.      Mengetahui bagaimana cara untuk mewujudkan revolusi mental.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi revolusi mental
     Seiring dengan kemenangan Bapak Joko Widodo dan Yusuf Kalla dalam pilpres 9 Juli 2014 maka tampaknya kita akan memasuki era perubahan yang signifikanmelalui konsep Revolusi Mental yang dicanangkan oleh Presiden Baru periode 2014-2019 itu. Perubahan yang signifikan tersebut sebaiknya kita sikapi dengan kesiapan untuk berubah dari dalam diri kita masing-masing agar tidak menjadi korban perubahan. Tetapi, apakah sebenarnya Revolusi Mental itu?
     Revolusi Mental terdiri dari dua kata yaitu Revolusi dan Mental. Revolusi (dari bahasa latin revoutio, yang berarti “berputar arah”) adalah perubahan fundamental (mendasar) dalam struktur kekuatan atau orgnisasi yang terjadi dalam periode waktu yang relatif singkat. Atau bisa diartikan sebagai perubahan dalam waktu singkat. Aristoteles menggambarkan pada dasarnya ada 2 jenis revolusi yakni:
1.      Perubahan sepenuhnya dari satu  aturan ke yang lainnya
2.      Modifikasi terhadap aturan yang ada
Revolusi telah banyak terjadi dalam sejarah umat manusia dan bervariasi dalam berbagai metode,durasi,dan ideologi motivasi. Hasilnya telah terjadi perubahan besar dalam budaya, ekonomi, dan institusi sosial politik.
     Sedangkan Mental atau tepatnya Mentalitas adalah cara berpikir atau kemampuan untuk berpikir, belajar, dan merespon terhadap suatu situasi dan kondisi. Metalitas berasal dari kata mental, yang berarti pikiran. Bagaimana pikiran kita bekerja itulah mentalitas kita, yaitu cara kita berpikir tentang sesuatu. Cara berpikir (mentalitas) dibentuk dari pengalaman, hasil belajar, atau pengaruh lingkungan. Jadi, Revolusi Mental dapat diartikan dengan perubahan yang relatif cepat dalam cara berpikir kita dalam merespon, bertindak dan bekerja.
2.1.1 Revolusi Mental Menurut Beberapa Ahli
2.1.1.1 Revolusi Mental Menurut Bung Karno
Dalam revolusi nasional Indonesia, gagagasan revolusi mental memang tidak bisa dipisahkan dari Bung Karno. Dialah yang menjadi pencetus dan pengonsepnya. Dia pula yang mendorong habis-habisan agar konsep ini menjadi aspek penting dalam pelaksanaan dan penuntasan revolusi nasional Indonesia. Esensi dari revolusi mental ala Bung Karno ini adalah perombakan cara berpikir, cara kerja/berjuang, dan cara hidup agar selaras dengan semangat kemajuan dan tuntutan revolusi nasional. “Ia adalah satu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala,” kata Bung Karno.
Perombakan cara berpikir, cara kerja, dan cara hidup ini punya dua tujuan besar: pertama, menamankan rasa percaya diri pada diri sendiri dan kemampuan sendiri; dan kedua, menanamkan optimisme dengan daya kreatif di kalangan rakyat dalam menghadapi rintangan dan kesulitan-kesulitan bermasyarakat dan bernegara. Untuk melancarakan revolusi mental ini, Bung Karno kemudian menganjurkan ‘Gerakan Hidup Baru’. Gerakan ini merupakan bentuk praksis dari revolusi mental. Menurut Soekarno, setiap revolusi mestilah menolak ‘hari kemarin’ (reject yesterday). Artinya, semua gaya hidup lama, yang tidak sesuai dengan semangat kemajuan dan tuntutan revolusi, mestilah dibuang. Tetapi beliau juga berpendapat bahwa  revolusi mental bukanlah pekerjaan satu-dua hari, melainkan sebuah proyek nasional jangka panjang dan terus-menerus. 

2.1.1.2 Revolusi Mental Menurut Benny Susetyo (Sekretaris Eksekutif Komisi HAK  KWI, Pemerhati Sosial)
Perubahan dari ketidakpercayaan diri menjadi bangsa yang penuh kepercayaan. Menyadari diri bahwa kita adalah bangsa besar dan bisa berbuat sesuatu yang besar. “Visi” revolusi mental ini begitu pentingnya mengingat beragam kegagalan kita sebagai bangsa, kerap (selalu) dimulai dari mentalitas ini.
1.      Bangsa Besar
Harus ada yang terus mengingatkan bahwa Indonesia adalah bangsa besar. Namun, masyarakatnya kerap tidak percaya diri saat menghadapi tantangan- tantangan zaman. Pola pikir ini harus diubah karena perubahan selalu berasal dari sikap dan mental manusia. Kendati sudah merdeka berpuluh tahun lamanya, kita masih merasa sebagai bangsa yang rendah diri dan bermental “jongos”. Kita tidak maju akibat sikap mental yang selalu merasa diri terjajah dan bahkan menikmati situasi ketergantungan pada bangsa lain. Kemakmuran yang ada seperti sebuah fatamorgana, hanya indah di buku-buku sekolahan, namun pahit dalam kenyataan. Sumber daya alam negeri ini bahkan nyaris ludes dikuasai oleh pihak asing.
2.      Merdeka Sepenuhnya
Kita sering merasa minder sebagai bangsa. Kurang bisa memaknai harga diri dan begitu mudah menyerahkan segalagalanya pada bangsa lain. Orientasi elite kerap hanya keuntungan dirinya saja, dengan hanya menjadi perantara atau makelar saja. Bukan sebagai bangsa yang tangguh yang berani mengelola semua potensi untuk rakyat sendiri. Berabad-abad lamanya menjadi bangsa yang bisa membungkuk pada orang lain. Dan, inilah musabab segala problematika bangsa ini sebab mental elite tidaklah merdeka sepenuhnya. Dalam konteks pendidikan, ketakutan luar biasa terhadap mereka yang memiliki uang merupakan cermin gagalnya pengelolaan republik ini. Kita belum mampu memproses manusia yang merdeka, mendidik manusia untuk benar-benar menjadi merdeka.
3.      Sistem Penuh Kepalsuan
Suka tidak suka, sadar tidak sadar, harus dikatakan bahwa inilah cermin sebagian besar elite politik kita hari ini, yang tidak berani mengadakan perubahan secara radikal dengan merombak sistem lama yang penuh kepalsuan. Sungguh ironis karena sudah tahu sistem tersebut penuh dengan kebobrokan, justru tetap dilestarikan karena berdalih menjaga kesopanan.
Tidak ada kesadaran bahwa selama sistem lama masih bercokol, jangan harap menghasilkan elite yang berkualitas. Citacita kemerdekaan yang digariskan oleh para pendiri republik seolah luntur. Barangkali, tak pernah disangka oleh para pendiri republik bahwa akhirnya kemerdekaan yang telah diraih dengan darah dan pengorbanan untuk keluar dari jerat pikir penjajahan kembali lagi menuju penjajahan di bawah dalih kemerdekaan. Ironisnya, penjajahan dalam arti yang lebih luas (politik, ekonomi, sosial, dan budaya) dilakukan oleh bangsa sendiri bersama dengan bangsa lain melalui persekongkolan jahat. Dalihnya kemakmuran, tapi nyatanya ketertindasan. Romantisme perjuangan dalam bentuk solidaritas kebangsaan yang amat kuat luntur karena para pengisinya tak pernah sadar bahwa usaha membangun selalu dilakukan bersama, bukan orang per orang dan kelompok per kelompok.
4.      Kemerdekaan Sejati
Kemerdekaan adalah kepedulian untuk terus-menerus memberdayakan manusia agar ia memahami dirinya sendiri sekaligus mengaktualisasikan kreativitasnya demi membangun kemakmuran bangsa dan negara. Gagasan Romo Mangun tersebar dalam berbagai pikiran untuk membebaskan manusia dari belenggu. Bangsa baginya tidak hanya sebagai kumpulan manusia yang setiap tahun merayakan kemerdekaan. Kemerdekaan bangsa adalah cerminan dari manusia sebagai individu yang otonom. Kenyataannya, meski kita sudah merdeka hampir setengah abad dari penjajah, arti kemerdekaan itu hanya bisa dilekatkan sebagai kemerdekaan secara formal. Itupun masih harus kita pertanyakan kembali, meski kita sudah merdeka, pada hakikatnya kita masih terjajah secara ekonomi. Atas itu semualah, revolusi mental diperlukan, bukan hanya dalam kata-kata namun juga dalam tindakan konkret untuk mengembalikan Indonesia sebagai bangsa besar yang mengelola kekayaan alam untuk rakyatnya sendiri.

2.1.1.3 Revolusi Mental Menurut Joko Widodo
Dalam pembangunan bangsa, saat ini kita cenderung menerapkan prinsip-prinsip paham liberalisme yang jelas tidak sesuai dan kontradiktif dengan nilai, budaya, dan karakter bangsa Indonesia. Sudah saatnya Indonesia melakukan tindakan korektif, tidak dengan menghentikan proses reformasi yang sudah berjalan, tetapi dengan mencanangkan revolusi mental menciptakan paradigma, budaya politik, dan pendekatan nation building baru yang lebih manusiawi, sesuai dengan budaya Nusantara, bersahaja, dan berkesinambungan.
Penggunaan istilah “revolusi” tidak berlebihan. Sebab, Indonesia memerlukan suatu terobosan budaya politik untuk memberantas setuntas-tuntasnya segala praktik-praktik yang buruk yang sudah terlalu lama dibiarkan tumbuh kembang sejak zaman Orde Baru sampai sekarang. Revolusi mental beda dengan revolusi fisik karena ia tidak memerlukan pertumpahan darah. Namun, usaha ini tetap memerlukan dukungan moril dan spiritual serta komitmen dalam diri seorang pemimpin dan selayaknya setiap revolusi diperlukan pengorbanan oleh masyarakat.
Reformasi 16 tahun tidak banyak membawa perubahan dalam cara kita mengelola ekonomi. Pemerintah dengan gampang membuka keran impor untuk bahan makanan dan kebutuhan lain. Banyak elite politik kita terjebak menjadi pemburu rente sebagai jalan pintas yang diambil yang tidak memikirkan konsekuensi terhadap petani di Indonesia. Ironis kalau Indonesia dengan kekayaan alamnya masih mengandalkan impor pangan. Indonesia secara ekonomi seharusnya dapat berdiri di atas kaki sendiri, sesuai dengan amanat Trisakti. Ketahanan pangan dan ketahanan energi merupakan dua hal yang sudah tidak dapat ditawar lagi. Indonesia harus segera mengarah ke sana dengan program dan jadwal yang jelas dan terukur. Di luar kedua sektor ini, Indonesia tetap akan mengandalkan kegiatan ekspor dan impor untuk menggerakkan roda ekonomi.
Sifat ke-Indonesia-an juga semakin pudar karena derasnya tarikan arus globalisasi dan dampak dari revolusi teknologi komunikasi selama 20 tahun terakhir. Indonesia tidak boleh membiarkan bangsanya larut dengan arus budaya yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa kita. Sistem pendidikan harus diarahkan untuk membantu membangun identitas bangsa Indonesia yang berbudaya dan beradab, yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral agama yang hidup di negara ini. Akses ke pendidikan dan layanan kesehatan masyarakat yang terprogram, terarah, dan tepat sasaran oleh nagara dapat membantu kita membangun kepribadian sosial dan budaya Indonesia.

2.2  Perlunya Revolusi Mental
Hasil-hasil survei internasional sering menunjukkan bahwa dalam hal yang baik, angka untuk Indonesia cenderung rendah, tetapi dalam hal yang buruk cenderung tinggi. Contoh, data Tranparency International menunjukkan persepsi tentang tingkat korupsi di sektor publik, dari 177 negara dan dengan 177 skor, Indonesia berada di rangking 114 dengan skor 32. Ini di bawah Ethiopia yang berada pada posisi 111.  Masyarakat Indonesia sendiri merasa resah melihat perilaku, sikap serta mentalitas kita yang saling serobot di jalan raya, tak mau antre, kurang penghargaan terhadap orang lain. Serangkaian FGD (kelompok diskusi terfokus)  di Jakarta, Aceh, dan Papua yang dilakukan oleh Kelompok Kerja Revolusi Mental Rumah Transisi juga menggambarkan keresahan masyarakat tentang karakter kita sebagai bangsa. FGD ini melibatkan 300 orang budayawan, seniman, perempuan, netizen, kaum muda,pengusaha,birokrat, tokoh agama/adat, akademisi dan LSM. Kesimpulan yang didapat adalah kita memang butuh mengubah mentalitas secara revolusioner karena adanya gejala :
1.      krisis nilai dan karakter 
2.      krisis pemerintahan: pemerintah ada tapi tidak hadir, masyarakat menjadi obyek pembangunan,
3.      krisis relasi sosial : gejala intoleransi.  
       Beberapa kutipan dari peserta FGD :
"Ada sesuatu yang salah tentang nilai. Ada nilai luhur bangsa yang terlupa..."  (Tokoh Sektor Privat, FGD Jakarta)
"...Orang yang berperilaku baik, Jujur dan bersih justru tidak populer, mereka yang baik menjadi musuh bersama."  (Birokrat, FGD Aceh)
"...Peradaban Indonesia sedang berhenti..."  (Seniman, FGD Jakarta)
"Birokrasi sekarang: Gendut, berbelit, rapuh"  (Birokrat, FGD Jakarta)
"Di Kemenpora, program kebanyakan seminar saja. Kedepan harus  lebih fokus dalam pembangunan mental demi masa depan Indonesia."  (Tokoh Muda, FGD Aceh)
"Penegakkan hukum gak jelas antara yang salah dan benar tapi tergantung lobby. Kita cenderung menghormati orang dari penampilannya, bukan apa yang dilakukan.  "  (Tokoh Sektor Privat, FGD Jakarta.)
"Saya pikir dalam waktu 5 tahun terakhir ini kondisi semakin buruk karena pemerintah semakin tidak mendengarkan (rakyat), ada, tapi tidak hadir."  (Netizen, FGD Jakarta)
"Respons Pemerintah lama, masyarakat menyelesaikan masalahnya dengan caranya sendiri"  (Tokoh LSM, FGD Jakarta)
"Masyarakat mengalami kehilangan kepercayaan terhadap Pemerintah"
(Tokoh LSM, FGD Jakarta)
"Yang perlu diubah adalah mentalitas proyek"  (Tokoh Agama, FGD Jakarta)
"Saat ini kita berada dalam situasi bahwa toleransi mengalami kemunduran dibandingkan 15 tahun yang lalu"  (Tokoh Agama, FGD Jakarta).
        Keresahan masyarakat kita ini harus dijawab dan diberikan solusi sebelum berjalan lebih jauh lagi. Bila sejak merdeka kita sibuk dengan pembangunan fisik, maka saatnya kita bangun pula mental kita. Pembangunan ini akan kita lakukan dengan berbagai gerakan bersama, kolaborasi antara masyarakat dan swasta yang didukung oleh pemerintah. Perubahan dimulai saat ini dan berawal dari diri sendiri, dilakukan bersama untuk Indonesia yang lebih baik.

2.3  Cara mewujudkan Revolusi Mental
2.3.1        Prinsip Revolusi Mental
Berikut 8 Prinsip Revolusi Mental:
1.      Revolusi Mental adalah gerakan sosial untuk bersama-sama menuju Indonesia yang lebih baik.
2.      Harus didukung oleh tekad politik (political will) Pemerintah
3.      Harus bersifat lintas sektoral.
4.      Kolaborasi masyarakat, sektor privat, akademisi dan pemerintah.
5.      Dilakukan dengan program “gempuran nilai” (value attack) untuk senantiasa mengingatkan masyarakat terhadap nilai-nilai strategis dalam setiap ruang publik.
6.      Desain program harus mudah dilaksanakan (user friendly), menyenangkan (popular) bagi seluruh segmen masyarakat.
7.      Nilai-nilai yang dikembangkan terutama ditujukan untuk mengatur moralitas publik (sosial) bukan moralitas privat (individual).
8.      Dapat diukur dampaknya dan dirasakan manfaatnya oleh warga masyarakat.
2.3.2 Nilai-Nilai Strategis Revolusi Mental
Sub Nilai
Contoh Perilaku
Kewargaan
Bersih, Antri, Hak disable, Hak pejalan kaki, Aman berkendara
Dapat Dipercaya
Anti memberi dan menerima Suap
Profesional
Cepat tanggap, tepat waktu, tidak menunda pekerjaan
Mandiri
Cinta produk Indonesia
Kreatif
Melakukan inovasi, Anti mencontek, life-long learning
Saling Menghargai
Sopan santun, Menerima perbedaan, Anti kekerasan, Anti Diskriminasi, kasih sayang.
Gotong Royong
Tolong menolong, kerja sama, kerelawanan


2.3.3 Dari mana kita memulainya?
        Kalau bisa disepakati bahwa Indonesia perlu melakukan revolusi mental, pertanyaan berikutnya adalah dari mana kita harus memulainya. Jawabannya dari masing-masing kita sendiri, dimulai dengan lingkungan keluarga dan lingkungan tempat tinggal serta lingkungan kerja dan kemudian meluas menjadi lingkungan kota dan lingkungan negara. Revolusi mental harus menjadi sebuah gerakan nasional. Usaha kita bersama untuk mengubah nasib Indonesia menjadi bangsa yang benar-benar merdeka, adil, dan makmur. Kita harus berani mengendalikan masa depan bangsa kita sendiri dengan restu Allah SWT. Sebab, sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu bangsa kecuali bangsa itu mengubah apa yang ada pada diri mereka.



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
           Revolusi mental adalah sebuah langkah terbaik yang dapat kita lakukan untuk perubahan negara menjadi lebih baik lagi. Hal ini dikarenakan krisis karakter atau budaya yang sedang melanda bangsa ini. Kita tidak mungkin akan selamanya membiarkan keadaan ini terus  menerus terjadi. Karenanya kesadaran dari dalam diri kita sendiri adalah kunci utama demi tercapainya perubahan tersebut. Walaupun hanya hal kecil yang dapat kita lakukan, tetapi jika seluruh warga Indonesia juga melakukannya maka akan terjadi sebuah revolusi mental yang akan mengubah krisis karakter yang tengah terjadi sekarang ini. Marilah kita bersama-sama mengembalikan identitas bangsa dan negara ini. Marilah kita bersama-sama mewujudkan cita-cita Bung Karno di era proklamasi dulu dalam Revolusi Mental yang menurutnya adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala.

3.2 Saran
     Penulis menyadari akan kekurangan bahan dari materi makalah ini. Sehingga penulis menyarankan apabila terdapat kekurangan dalam isi dari makalah ini, maka saran – saran dan  kritik dari pembaca adalah penutup dari semua kekurangan penulis serta menjadikan semua itu  menjadi bahan acuan untuk memotivasi dan menyempurnakan makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA

Adapun daftar pustaka makalah ini adalah dari berbagai website berikut:
http://kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=288195

Thank you. 😆








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Politik Islam

disusun oleh: 1.       Hanifah                        2015210043 2.       Maines Panjaitan         2015210038 3.       Sari Mu...